˚◦♥◦˚الا قتبا س˚◦♥◦˚˚

1. Pengertian Iqtibas
Arti Iqtibas menurut bahasa, ialah mengambil api. Sedangkan menurut istilah ialah :
تضمين الكلام نثرا او نظما شيئا من القران والحديث لاانه منه...
Kalam dengan natsar atau nazham yang menyampaikan sesuatu dari Al-Qur’an atau Hadist, akan tetapi kalam itu bukan Al-Qur’an  atau Hadist.
الا قتبا س ان يضمن الكلام قرانا اوحديث سيد الانام 
Badi’ iqtibas itu ialah kalm yang menyimpan Qur’an  atau  Hadist penghulu seluruh makhluk   Menurut  Mardjoko Idris dalam bukunya Ilmu Balaqah yang dikutip dari beberapa pendapat tentang pengertian Iqtibas antara lainnya :
          Ahmad al-Hasyim
الا قتبا س هو أن يضمن المتكلم منثو ره أو شيئا من القران أوالحديث على وخه لا يشعر بأنه منهما
Iqtibas ialah penyisipan yang dilakukan oleh muttakalim ayat Al-Qur’an atau Hadist kedalam perkataannya (prosa maupun nadzam), dengan tanpa menyebutkan bahwa sisipan tersebut berasal dari Al-Qur’an atau Hadist.

    Menurut Ali Jarim
الا قتبا س هو تضمين النثر أو الشعر شيئا من القران أوالحديث الشريف من غير دلا له على أنه منهما ويجو زأن يغير فى الا ثرالمقتبس قليلا
Iqtibas adalah mengutip suatu kalimat dari Al-Qur’an atau Hadist, lalu disisipkan kedalm prosa atau syair tanpa dijelaskan bahwa kalimat yang dikutip tersebut diambil dari Al-Qur’an dan Hadist. Disini, pengutip diperkanankan mengambil apa adanya (tanpa mengadakan perubahan atau dengan sedikitnya mengadakan perubahan.
     Hifny Bik Nashif
الا قبتا س هوأن يضمن الكلام شيئا من القران أو الحج يث لا علا أنه منه
Iqtibas yaitu suatu kalimat yang berisikan ungkapan dari Al-Qur’an atau Hadist, dengan tidak menyatakan bahwa ungkapan tersebut diambil darinya.
Menurut Al-Jarim Ali dan Amin Musthafa dalam bukunya Waadhihah Al-Balaaghatul mendefinisikan bahwa :
Iqtibas adalah mengutip suatu kalimat dari Al-Qur’an atau Hadist, lalu disertakan kedalam suatu kalimat prosa atau syair tanpa dijelaskan bahwa kalimat yang dikutip itu dari Al-Qur’an atau Hadist.

2      Pembagian Iqtibas
Iqtibas menurut Ulama ada tiga macam, ialah :
a    Tsabitul ma’ani, yaitu yang tidak berubah dari makna asalnya.
b      Muhawwal, yaitu yang dirubah dari makna asalanya seperti kata syair :                                                       
لئن اخطأ ت فى مدح  * ك ما اخطأت فى منعى
لقد انزلت حا جا تى * بوا د غيرذى زرع
Artinya  :
Kalau aku salah dalam memujimu, maka aku tidak salah dalam menahan nafsuku. Sungguh engkau telah menempatkan kebutuhanku pada lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhannya.
Syi’iran ini dipindahkan dari ayat :
ربنا انى اسكنت من ذريتى بوادغير ذى زرع
Maknanya dalam Al-Qur’an, ialah lembah yang tidak berair dan tidak ada tumbuh-tumbuhannya, yaitu: Mekkah. Adapun maksud syi’iran, ialah laki-laki yang tiada kebaikannya dan tiada berguna.
c.       Yang dirubah sedikit wacannya, seperti kata sya’ir :
قد كا ن ما خفت ان يكو نا انا الى الله را جعونا
Artinya :
Sungguh telah terbukti apa yang engkau takuti. Sesungguhnya kami kembali semua kepada Allah. Dari ayat
 انا لله وان اليه را جعون

3   Contoh-contoh Iqtibas:
لا تعا دالناس فى أوطا نهم  * قلما يرعى غريب الوط
أذا ما شئت عيشا بينهم * خا لق الناس بخلق حسن

Janganlah engkau memusuhi orang-orang yang berada dinegeri sendiri, sedikit sekali pengembara disuati negeri mendapat perlakuan baik. Bila engkau menginginkan hidup damai tentram ditengah-tengah mereka, maka berakhlaklah terhadap manusia dengan budi pekerti yang luhur.

Pada contoh diatas kita temukkan dalam syair sebauh ungkapan yang bila diamati bukanlah gubahan penyair sendiri, melainkan penyair mengambil sebagian dari Hadist Nabi Muhamad Saw dengan tidak mengadakan perubahan sedikit pun. Ungkapan tersebut adalah
و خا لق الناس بخلق حسن, ungkapan tersebut diambil dari Hadist Nabi Saw yang berbunyi
اتق الله حيثما كتب و اتبع السيئة تمحها و خا لق الناس بخلق حسن   
Bertaqwallah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada, serta ikiutilah perbuatan jelekmu dengan kebaikkan,niscaya kebaikkan itu akan meanghapuskan kejelekkan, serta berakhlaklah kamu kepada sesama manusia deangan akhlak yang baik.

اغتنم فودكالفا حما قبل أن يبيض فأ نما الد نيا جداريريدأن ينقض
Gunakanlah kesempatan selagi rambutmu yang hitam belum memutih, karena sesungguhnya dunia ibarat dinnding rumah yang hampir roboh.

Pada contoh diatas ditemukkan bahwa didalam ungkapan tersebut terdapat penyisipan yang dilakukan oleh al-mutakallim yaitu ungkapan   فا نما الد نيا جد ار يريد ان ينقض    tersebut yang diambil dari ayat Al-Qur’an QS.Al-Kahfi;77
فا نطلقا حتى إذاتاياأهل قرية استطعما أهلها فأ بو أن يضيفو هما فو جدا فيها جدارايريد أن ينقض فأقا مه قال لوشئت لتخذت عليه أجرا  maka keduanya berjalan; sehingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding yang hampir roboh, maka Khidir As mengatakan dinding itu. Musa berkata: Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu.
Dalam penyisipan ayat tersebut , Al-mutakalim tidak menyebutkan bahwa ungkapan itu diambil dari ayat Al-Qur’an, juga didapatkan bahwa al-Mutakallim sedikit mengadakan perubahan dari aslinya.










Tidak ada komentar:

Poskan Komentar